Skandal Adopsi Anak Indonesia, Jejak 4.000 Korban yang Mencari Identitasnya

Skandal Adopsi Anak Indonesia

BERITA NASIONAL, garismassa.comSkandal Adopsi Anak Indonesia kembali menjadi perhatian publik setelah terungkap bahwa sekitar 4.000 anak Indonesia yang diadopsi oleh keluarga asal Belanda pada era 1970 hingga 1980 kini tengah berjuang menemukan identitas biologis dan keluarganya di tanah kelahiran. Sebagian dari mereka bahkan berharap dapat kembali memperoleh status sebagai warga negara Indonesia.

Fakta tersebut terungkap dalam laporan investigasi Tempo yang dipublikasikan pada Juli 2026. Dalam laporannya, Tempo mengungkap praktik adopsi massal anak-anak Indonesia ke Belanda yang terjadi selama lebih dari satu dekade melalui sejumlah yayasan sosial dan panti asuhan yang menjadi perantara adopsi internasional.

Ironisnya, setelah lebih dari 50 tahun berlalu, banyak dari mereka yang tumbuh dan hidup nyaman di Belanda justru tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya, di mana mereka dilahirkan, bahkan bagaimana proses adopsi itu terjadi.

Bagi sebagian korban, Indonesia bukan hanya sebuah negara di peta dunia, melainkan rumah yang selama ini hilang dari perjalanan hidupnya.

Skandal Adopsi Anak Indonesia Terungkap Setelah Lima Dekade

Menurut laporan investigasi Tempo, ribuan anak Indonesia diadopsi oleh keluarga Belanda pada rentang 1970 hingga 1980. Sebagian besar proses adopsi dilakukan melalui yayasan sosial dan panti asuhan yang kala itu memiliki akses untuk menyalurkan anak-anak Indonesia kepada keluarga angkat di Belanda.

Kini, para korban yang telah berusia 40 hingga 50 tahun mulai kembali menelusuri jejak masa lalunya. Tidak sedikit yang datang langsung ke Indonesia untuk mencari dokumen kelahiran, keluarga biologis, hingga kampung halaman yang selama ini hanya mereka kenal melalui cerita dan dokumen yang belum tentu benar.

Beberapa di antaranya bahkan menyatakan keinginan untuk kembali menjadi warga negara Indonesia dan memiliki dokumen kependudukan Indonesia sebagai bagian dari proses menemukan kembali identitasnya.

Pencarian tersebut bukan semata-mata persoalan kewarganegaraan, tetapi merupakan perjuangan untuk mengetahui siapa mereka sebenarnya dan dari mana mereka berasal.

BBC News Indonesia Ungkap Pelanggaran dalam Skandal Adopsi Anak Indonesia

Kasus ini sebenarnya bukan persoalan baru. BBC News Indonesia dalam laporan investigatifnya pada 2021 mengungkap bahwa pemerintah Belanda telah menemukan berbagai pelanggaran serius dalam praktik adopsi internasional yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Pelanggaran tersebut ditemukan oleh komite investigasi independen bentukan pemerintah Belanda yang bekerja selama dua tahun untuk mengungkap praktik adopsi lintas negara yang berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam temuannya, terdapat indikasi penculikan anak, perdagangan anak, pemalsuan dokumen, hingga penggunaan alasan palsu dalam sejumlah proses adopsi internasional.

Atas hasil investigasi tersebut, pemerintah Belanda secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada para korban praktik adopsi internasional dan menghentikan sementara program adopsi lintas negara yang selama ini dijalankan pemerintahnya.

Temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa persoalan yang dihadapi para korban bukan hanya soal kehilangan identitas, tetapi juga menyangkut dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam proses adopsi internasional.

Skandal Adopsi Anak Indonesia Sisakan Luka bagi Ribuan Korban

BBC News Indonesia juga mengangkat kisah Widya Astuti Boerma, seorang perempuan kelahiran Indonesia yang diadopsi oleh keluarga Belanda pada 1980. Setelah dewasa, Widya baru mengetahui bahwa perempuan yang selama ini diperkenalkan sebagai ibu kandungnya ternyata bukan orang tua biologisnya.

Kisah tersebut hanyalah satu dari ribuan cerita yang dialami para korban adopsi internasional asal Indonesia.

Sementara itu, Yayasan Mijn Roots di Belanda yang dikutip BBC News Indonesia memperkirakan terdapat sekitar 3.000 anak Indonesia yang diadopsi oleh keluarga Belanda sepanjang periode 1973 hingga 1983. Adapun laporan investigasi Tempo pada 2026 menyebut jumlahnya mencapai sekitar 4.000 orang.

Meski terdapat perbedaan angka, kedua laporan tersebut sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia pernah mengalami praktik adopsi internasional dalam skala besar yang hingga kini masih menyisakan berbagai persoalan hukum, kemanusiaan, dan hak identitas anak.

Mencari Rumah yang Hilang

Bagi ribuan korban, pencarian ini bukan lagi sekadar mencari alamat rumah atau nama keluarga kandung.

Mereka sedang mencari bagian dari dirinya yang hilang sejak masa kanak-kanak.

Sebagian besar dari mereka tumbuh dengan bahasa, budaya, dan keluarga yang berbeda. Namun, satu pertanyaan yang selalu mereka simpan tidak pernah berubah: siapakah mereka sebenarnya?

Setelah lebih dari lima dekade berlalu, perjuangan itu akhirnya membawa mereka kembali menoleh ke Indonesia. Bukan untuk meminta belas kasihan, melainkan untuk memperoleh hak paling mendasar yang seharusnya dimiliki setiap manusia, yakni mengetahui identitas dan asal-usulnya.

Skandal adopsi yang terjadi puluhan tahun lalu mungkin telah menjadi catatan sejarah bagi sebagian orang. Namun, bagi 4.000 korban yang masih mencari jati dirinya, sejarah itu belum pernah benar-benar berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *